SELAMAT DATANG DI OFFICIAL WEBSITE PPTQ AL-ASY'ARIYYAH

. . .


Wonosobo, Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI)- Telah mengadakan berbagai macam perlombaan yang diikuti oleh siswa dan siswi tingkat Sekolah Dasar se-Kecamatan Mojotengah dan digelar di sekolah MAN 2 Wonosobo.

Tujuan kegiatan ini dilakasanakan adalah sebagai sarana melahirkan generasi yang mampu kuasai nilai-nilai Qur`ani. Memompa semangat anak putra bangsa dengan menorehkan berbagai prestasi.
Adapun macam-macam perlombaanya meliputi : Lomba nasyid, lomba ceramah, lomba tilawah, lomba Pidato Bahasa Arab, lomba Pidato Bahasa Inggris, lomba praktek sholat, dan masih banyak perlombaan-perlombaan lainnya.

Acara tersebut berjalan dengan lancar dan sangat meriah. Semangat semakin pecah diluapkan oleh perwakilan siswa, para guru dan tentunya para suporter dari SD Takhasus Al-Qur`an yang telah menyabet 17 lomba dari banyak perlombaan yang telah diadakan dan dinyatakan meraih Juara Umum Tingkat se-Kecamatan Mojotengah pada acara Festival Anak Sholeh Indonesia.

``Alhamdulillah, kami selaku pembina SD Takhassus Al-Quran sangat bangga kepada anak-anak bisa mengikuti perlombaan FASI ini hingga mendapatkan juara umum dengan sangat luar biasa !`` Tutup Ani. Ahad (28/7)

Wonosobo, PPTQ Al-Asy’ariyyah
Majelis Jama'atul Khufadz Wadarosat mengadakan acara simaan Al-Qur’an sekaligus melangsungkan ziarah qubro KH. Muntaha al-Hafidz di PPTQ Al-Asy’ariyyah2 Deroduwur, Mojotengah, Wonosobo. Acara dimulai pada pukul 07:00 pagi sampai dengan ba’da dzuhur. Dengan dihadiri oleh para dzuriyah, puluhan santri dan alumni hufadz yang juga turut mengisi simaan al-Qur’an tersebut. Selain para santri, ratusan warga sekitar bahkan masyarakat luar turut hurmat di dalamnya. Pembacaan juz 30 yang dibacakan bergilir oleh para masyayikh sekaligus Doa khataman yang dipimpin oleh beliau, KH. Abdul Halim menjadi titik awal acara.(21/4)

“Opo wae seng kerono Gusti Allah iku badhe langgeng lan nyambung. Sak walikke, opo wae seng kerono sak liane Allah iku badhe ilang lan terputus,” kata KH. Khairullah al-Mujtaba (Gus Itab) dalam sambutan atas nama keluarga Mbah Muntaha al-Hafidz.

Beliau pun berpesan yang diambil dari sabda Nabi : Didiklah anak Kalian dengan tiga perkara :
1. Cinta kepada Nabi, Bukti mencintai yang pokok adalah menjalankan sunahnya Nabi Muhammad Saw.
2. Cinta kepada ahlul bait Nabi, salah satu kenikmatan ketika masuk surganya Allah adalah dengan berkumpulnya bersama Rasulullah saw. Yang perlu diingat adalah “nek ora seneng, ojo sengit”.
3. Didiklah anak kalian untuk membaca dan memahami al-Qur’an

“Majelis Jama’atul Khufadz Wadarosat Al-Qur'an adalah jama’ah rutin setiap tanggal 15 Sya’ban. Bertujuan untuk tabarukan dengan perintis Majelis Jama'atul Khufadz Wadarosat ini sekaligus diniati haul Mbah Muntaha, Mbah Mustahal dan Abah Faqih,” ucap KH. Abdul Halim dalam Mauidhoh Hasanah

Pesan yang sampai sekarang masih teringat oleh beliau (KH. Abdul Halim) adalah ketika Mbah Mun ditanya tentang Idul Fitri jatuh pada hari dan tanggal berapa?. Beliau hanya menjawab “NU kapan ?”. Kenapa ? Karena setiap NU menentukan sesuatu itu tidak gegabah. Pelajaran dari Abah Faqih sendiri yaitu, “Jika kita memberi sesuatu kepada orang lain, niatkanlah hati kita untuk mengirim doa kepada leluhur. Agar rezekinya barokah.”

Ittibar yang bisa diambil dari Almarhum al-maghfurlah yakni: KH. Muntaha; Masalah Organisasi, KH. Mustahal Asy’ari; Ikhlas, Abah Faqih; Masalah ganjaran

Wejangan terakhir dari KH. Abdul Halim adalah Jangan menilai Kiai dari sisi negatifnya, tetapi dari sisi positifnya. (Elsa) 

PAYUNG HITAM
Oleh : Annisa Rizki Ramadhani

Malam sunyi tak bertanda
Tiba tiba sirine menguing
Langit mendung seolah ikut berkabung
Tangis pilu menyeruak di penjuru kota
Kulahap berita diantara isak
Gerimis payungi hati
Ratap mengguncang senyap menyelinap
Selipkan nama yang tak asing ditelinga
 Abah........
Tubuh lemah tak bernyawa
Tak terusik rintih
Hening berkabung
Hanya ayat suci dan tauhid yang mengiringi langkahmu bertabur doa.........
Allahummaghfirlahum warkhamhum,wa’afini wa’fu’anhum
Tiada terbayangkan semua begitu cepat waktu yang mendekat
Seraut wajah kerutmu dulu bukti kesucian dalam hati
Terima kasih untukmu abah..............
Kini kaupun telah tiada
Meninggalkan sejuta ilmu untuk kita semua
Hanya doa.......
Semoga engkau tentram bersemayam disana

Dalam samudra bahagia,semoga kelak kita bisa bertemu di surga



Dewasa ini, social media (sosmed) sudah menjadi kebutuhan untuk semua kalangan.  Mulai dari Petinggi Negara, Pebisnis, Praktisi, Politisi, Akademisi, Sastrawan, hingga Kaum Sarungan.  Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak hal-hal positif yang dapat kita gali darinya, pun efek negatifnya tidak dapat dielakkan.  Walaupun sejatinya tidak ada suatu Negara yang menginginkan rakyatnya terjerambab ke dalam stigma-stigma dan polapikir yang tidak diinginkan, karena yang dapat memfilter mana yang pantas dan tidak untuk di share ke khalayak ramai hanyalah diri kita masing-masing.

Acap kali, kita temui pertikaian dalam dunia maya. Hal ini bermula dari Update status yang berbumbu syara’, sindiran dan fitnah.  Seabrek keluhan yang diposting setiap detiknya memenuhi dinding pemberitahuan para pembaca, aman saja jika tidak ada oknum-oknum yang tersudutkan? Jika menimbulkan pertikain? Bagaimana?

Tak pelak, kita temui pertikaian didunia maya yang di bawa sampai kedunia nyata dan bukan saja memperpendek jarak, malah makin membuat runyam ketenangan pribadi dalam menjalani kehidupan.  Baik saja, jika social media bisa benar-benar dimanfaaatkan dengan baik.  Karena kemanfaatnanya akan bisa dirasakan, misal : Di grup komunitas “ Tahfidzul Quran”, disitu membahas tentang pembagian juz, simaa’an dan deresan.  Selain itu juga bagi pelajar pada umumnya dan santri Al-asy’ariyyah khususnya dapat mengunduh aplikasi terkait pembelajaran, maktabah syamilah, juga mata pelajaran umum maupun agama.  Serta bisa dimanfaatkan untuk melihat dakwah dakwah, pula dapat diakses beasiswa belajar ke luar negeri, mengikuti tes kecerdasan secara online, juga perkembangan keilmuan di seluruh Negara-negara di dunia, pun para tokoh yang menginspiarasi yang tidak mungkin kita temui langsung bisa kita lihat kiprahnya lewat akun sosmednya, music music bernuansa qurani, islami dan memotivasi juga bisa kita unduh.

Social media (sosmed) baik itu Instagram, Line, Whatssapp, Facebook sebenarnya hanya sebuah sarana berkomunikasi,  fungsinya untuk memperat tali silaturahim.  Tak ayal jika disebutkan bahwa Social media merupakan Dajjal Majazi, Yakni, Dajjal secara majaz karenanya Ulama mengatakan banyak Dajjal- dajjal bermunculan salah satunya adalah alat telekomuniaksi yang tidak dimanfaatkan dengan semestiya.  Mengapa demikain? Karena sosmed berujung pada candu, yang akan membuang waktu sia-sia jika kita menjadikannya prioritas utama.

Kebaikan dalam bentuk apapun memang bermula dari ibda’ binafsi, pun social media yang kita geluti setiap hari ini akan menuai kepositifan jika pribadi masing-masing dapat memfilter dan memilahnya, jadi pandai-pandailah mengambil hikmah dalam segala hal.

“Abah, bagaimana dengan status yang setiap harinya berisi dengan seabrek keluhan, apakah keluhan ini masih mencerminkan akhlak santri?tanya reporter Al-Asy'ariyyah,”

“Sebenarnya keluhan itu berasal dari kegalauan akibat adanya problem yang tidak mampu dibendung sendiri sehingga tanpa pikir panjang ditumpahkan begitu saja dalam post message yang dipublikasikan, padahal tidak semua privasi kita harus diketahui oleh orang diseluruh dunia.  Tidak perlu sedikit sedikit update status yang nantinya hanya menimbulkan kebencian dan merenggangkan harmoni antar sesama.   Saya sendiri bergabung dalam grup Whatsapp ASPARAGUS (Aspirasi Para Gus) disitu kami para anggota memilki 14 pasal kesepakatan yang bertujuan menghindari fitnah. Sehingga kalau sudah sifatnya privasi bisa diungkapkan dan dikomunikasan lewat JaPri (Jaringan pribadi). Lagi lagi ini soal rasa, perasaan yang tidak diolah  dengan baik, yang tidak memiliki keteguhan iman kadangkala diumbar begitu saja, padahal melu ati mati, melu rasa binasa.  Seperti halnya ketika kita akan  menshare berita di grup harus di filter terlebih dahulu karena jika dalam grup kita akan menshare satu  informasi saja maka anggota yang di dalamnya akan mengetahui semua. Sehingga tak jarang berita yang tidak di filter terlebih dahulu akan  menuai berbagai pendapat. Salah satunya juga bisa menyebabkan adanya perasaan suudzon, karena yang sering terfikirkan hanya kepuasan hati tanpa mempertimbangakan padahal seharusnya difikirkan terlebih dahulu, apakah postingan saya menyinggung? Apakah pantas dipublikasikan? Jadi selalu berpedomanlah pada piye benere ora piye apike.  Tak jarang sikap suudzon akan menimbulkan benih permusuhan karena masing – masing dari kita akan mengeluarkan pembelaan-pembelaan serta hujjah yang tidak sesuai dengan basic dan literature pengetahuan tapi lebih condong pada literature emosi.

Perlu diketahui bahwa yang hilang dari diri kita bukan kepandaian tapi keyakinan, karena tidak semua dapat dinalar oleh logika dan dhohiriyyah saja lebih jauh dari itu penalaran bathiniyyah yang perlu dibangun, “bangunlah jiwanya bangunlah raganya” seperti Al aqlussalim fi jismi salim, jika akalnya sehat maka otaknyapun sehat, dengan seringnya mengeluh di akun sosmed ini menunjukan kurangnya “Managerial Hati” juga min ‘adh’afil iman (lemahnya iman) adalah ditandai denga seringnya mengeluh.”Papar Abah Atho.
Hakekatnya apa yang dirasakan oleh semua orang itu sama, jadi ketika menshare sesuatu sebaiknya difikirkn terlebih dahulu agar pembaca tidak tersindir dan sakit hati, yo dipikir yo diakal sehat. Kalupun kita ingin berkeluh kesah ada baiknya kita menceritakannya kepada orang yang di percaya atau yang dapat memberi solusi ”Tambah beliau.

Seyogyanya social media (sosmed) yanga tidak terlepas dala kehidupan kita ini dapat diamanfaatkan sebaik mungkin, jangan lupa selain managerial hati kita juga perlu managerial diri dengan cara memangae waktu, menggunakan social media seperlunya saja.  Ikutilah arus zaman tapi jangan tenggelam olehnya.  Lebih dari itu, kita tidak boleh terwarnai dan terlena.  Oleh karena itu, perlu adanya pemahaman keilmuan yang mandalam karena orang yang menguasai ilmu maka dia akan menjadi bijaksana, sedangkan orang yang dikuasai ilmu, maka yang muncul hanyalah sifat sombong, egoisme dan arogansi.

Wallahu a’lam

Kamis, 22 November 2018 pukul 20:00 WIB, PPTQ Al Asy’ariyyah Kalibeber Wonosobo mengadakan pengajian akbar dalam rangka maulid Nabi Muhammad SAW, acara tersebut di buka dengan pembacaan sholawat diiringi rebana yang dibawakan oleh tim KODASA PPTQ Al asy’ariyyah, acara pengajian akbar kali ini di isi oleh Bapak Kyai Ahmad Sudani Alh., Dalam kesempatan tersebut beliau mengingatkan para santri tentang perjuangan nabi agung Muhamad SAW sejak kecil hingga dewasa.
Nabi Muhammad adalah manusia namun tidak seperti manusia pada umumnya, sejak kecil nabi Muhammad sudah di tinggalkan ayah tercintanya Abdullah, bahkan sebelum beliau lahir ke dunia, kemudian di usia 6 tahun nabi Muhammad di tinggal oleh Ibunya Aminah, Nabi Muhammad pun sempat di rawat oleh kakeknya Abdul Mutholib namun baru kurang lebih 2 tahun kakeknya meninggal dunia, kemudian nabi Muhammad di rawat oleh pamannya Abu Thalib. Pada usia 12 tahun nabi Muhammad bekerja sebagai penggembala kambing, dan pada usia 25 tahun nabi Muhammad menikah dengan majikannya yang bernama Khadijah yang saat itu berusia 40 tahun.
Nabi Muhammad adalah sosok yang jujur dan penyabar, meskipun sejak kecil ia telah mendapatkan ujian namun nabi Muhammad tak pernah gentar untuk terus berbuat kebaikan, nabi Muhammad mempunyai kebiasaan yang sangat mulia yaitu menyuapi pengemis di pojok pasar, nabi Muhammad senantiasa datang untuk menyuapi pengemis tersebut, meskipun pengemis tersebut terus menjelek – jelekan dirinya ,hal itu tak membuatnya benci, hingga setelah beliau wafat kebiasaan itu dteruskan oleh Abu Bakar Ash sidiq. Namun saat Abu Bakar Ash sidiq menyuapi si pengemis, pengemis tersebut menolaknya dengan alasan suapan tersebut tidak sama seperti biasannya, pada saat itu Abu bakar pun menangis, dan berkata jujur bahwa memang bukan dirinya yang biasanya menyuapi pengemis tersebut, Abu bakar memberi tahu bahwa yang biasanya menyuapi pengemis itu adalah Nabi Muhammad SAW yang biasa ia jelek-jelekan, pengemis itupun menangis dan sangat menyesali perbuatannya, dan tidak lama kemudian pengemis tersebut memeluk islam.

Begitu mulia akhlak Nabi Muhammad SAW. Bapak kyai Ahmad Sudani Alh., pun berharap agar para santri mau mencontoh akhlak yang di miliki nabi Muhammad SAW, beliau juga mengingatkan agar para santri senantiasa membaca sholawat dengan harapan agar kelak mendapatkan syafa’at.